(Kambing Hitam) Internet Murah & Cepat
Ditulis pada tanggal 24 Februari 2009
Seluruh pengguna internet di dunia ini pasti menginginkan akses internet yang nyaman, terutama mereka yang berada di negara-negara di mana akses internet sedikit banyak masih merupakan hal yang cukup "mewah" tak terkecuali Indonesia. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu pemerintah (dan PJI) tiada henti mengupayakan agar rasa nyaman itu bisa dinikmati oleh masyarakat. Kenyamanan itu tentu saja adalah layanan yang "murah dan cepat."
Mbah Internet Surabaya dalam salah satu opininya menyebutkan bahwa ada dua komponen utama yang harus diperhatikan untuk mewujudkan impian itu, yaitu Internet eXchange Point dan Pengayaan Konten Lokal.
Latar belakang
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ketersediaan jalur pendek di dalam negeri sangatlah membantu, terutama ketika menyangkut hubungan antara jaringan dalam suatu ISP dengan jaringan di dalam ISP yang lain. Silakan baca ulasannya di artikel Mbah Noor di link yang sudah saya tulis sebelumnya. Namun demikian, hal tersebut tidak relevan bila urusannya menyangkut koneksi data ke luar negeri. Penyedia jasa internet tentu lebih mudah menyediakan konektifitas lokal—thanks to IIX/OpenIXP—daripada konektifitas dengan jaringan di luar negeri. Tidak dapat dipungkiri bahwa koneksi ke luar negeri makan biaya yang besar, apalagi kalau koneksi itu dituntut untuk berkapasitas besar juga. Sebagai gambaran, instalasi kabel serat optik di kampus saya dulu nilainya sudah ratusan juta rupiah. Silakan anda bayangkan sendiri kalau yang dihubungkan adalah Indonesia-Amerika.
Tanpa data berupa angka-angka hasil survey formal, kita semua bisa melihat bahwa banyak sekali di antara kita—atau bahkan mayoritas—yang berkomunikasi menggunakan Yahoo Messenger, melakukan aktifitas blogging di Wordpress, menggunakan email yang disediakan oleh Gmail, dan sebagainya. Silakan anda sebut, tentu anda takkan sanggup menyebut semuanya. Seluruh layanan itu "posisinya" ada di luar negeri. Sedikit sekali layanan dalam negeri yang digunakan secara massif oleh pengguna internet di dalam negeri.
Menurut pengalaman saya ketika masih mengurus jaringan kampus, hanya sekitar 20 sampai 30 persen saja komponen dalam negeri yang diakses oleh pengguna internet ITS. Ketika terjadi gempa hebat di Taiwan beberapa tahun yang lalu, praktis penggunaan internet di ITS hanya berkisar pada angka itu.
Konten lokal
Saya telah beberapa kali mengikuti beberapa seminar/diskusi/sarasehan nasional atau membaca resensi berbagai seminar/diskusi/sarasehan yang membahas tentang dominasi layanan internasional di dunia internet Indonesia. Pada akhirnya gagasan yang mendominasi acara-acara itu adalah himbauan untuk memperkaya konten lokal. Kurangilah konsumsi konten luar negeri agar PJI juga bisa mengurangi komponen biaya konektifitas internasional yang harganya selangit. Opini Pak Noor di atas juga pada akhirnya berbicara tentang itu.
Banyak sekali usaha-usaha yang telah dilakukan anak negeri untuk melakukan pengurangan akses internasional tersebut. Baba Studio juga menuliskan itu di forumnya. Bukan hanya menjelaskan latar belakang, mereka juga menuliskan daftar beberapa layanan konten lokal di halaman itu. Sungguh usaha yang sangat mulia (yang mempublikasikan, terlebih yang membuat).
Masih banyak layanan-layanan lain yang telah dibuat oleh anak negeri yang pada akhirnya banyak juga yang terpaksa harus tewas. Saat saya mengetik tulisan ini, gudangupload.com tidak bisa saya buka. Entah kapan matinya. Beberapa tahun yang lalu saya juga pernah mengetahui ada layanan milis yang juga berada di Indonesia, yang saat ini saya juga tidak tahu bagaimana cara mengaksesnya. Menurut kabar burung, layanan itu sudah lama mati karena kekurangan "dukungan" operasional. Entah sudah berapa banyak lagi yang telah lenyap.
Hingga saat ini, kurangnya konten lokal sajalah yang terpaksa menjadi tertuduh (kambing hitam) atas mahalnya biaya akses internet di Indonesia.
Hambatan
Menurut penuturan beberapa pengelola konten lokal, faktor harga sumber daya (perangkat keras, koneksi, dll) adalah penghambatan nomer 1 untuk tetap melanjutkan layanan. Kalau kasusnya memang begini, tak ubahnya seperti ular mengejar ekornya. Lingkaran setan. Kasus ayam-telur. Memang di sini harus ada pengorbanan. Akankah pemerintah memberikan subsidi untuk ini? Rasanya subsidi BBM dan beras masih jauh lebih diperlukan.
Yang bagi saya lebih signifikan adalah soal kualitas, popularitas, dan kesinambungan layanan.
Apakah kata-kata saya tentang kualitas berarti merendahkan kualitas orang Indonesia? Tidak. Jelas tidak. Web saya ini dikelola oleh perusahaan hosting Indonesia yang menurut saya berkualitas tinggi. Hubungannya adalah dengan perut. Biasanya semakin kecil gaji yang diterima oleh pembuat—dan pemelihara—program, semangat yang dikerahkan juga lebih kecil. Sayangnya memang standar gaji perusahaan Indonesia tidak setinggi standar gaji perusahaan asing. Saya tidak memandang angkanya, tapi nilainya. Gaji sejumlah W di negara X bisa ditukar dengan beras N kilogram di X, sedangkan gaji sejumlah Y di sini bisa ditukar dengan beras sejumlah N-1 kilogram. Kalau cuma angka, gaji sopir dengan hidup pas-pasan di Singapore masih lebih besar daripada saya di sini yang kalau mau sudah bisa foya-foya
Ya tentu saja, pendapat saya ini belum tentu benar dan pasti tidak berlaku umum. Saya lebih suka bekerja di sini daripada di negara lain yang kehidupannya diwarnai oleh perang saudara. Kalau di situ, bisa tetap hidup saja sudah beruntung. Lupakanlah urusan uang.
Popularitas berkaitan dengan siapa saja yang mungkin menggunakan layanan itu. Ambillah contoh Friendster. Coba bandingkan sebaran penggunanya dengan pengguna Digli. Untuk hal-hal yang berbau "social network" seperti itu, sebaran yang luas memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan model manusia yang lebih luas. Itu adalah nilai tambah. Nilai tambah yang sangat tinggi. Kesempatan itu tentunya tidak jauh lebih bernilai daripada kalau kemungkinan interaksinya hanya dengan sesama orang Indonesia saja (walau toh banyak di antara teman-teman saya yang akhirnya hanya berinteraksi dengan sesama orang Indonesia saja). Hal yang sama berlaku juga untuk Facebook. Entah mengapa dalam banyak diskusi, hal ini jarang disinggung. Yang diajukan sebagai pokok persoalan hanya lokal, lokal, dan lokal.
Kesinambungan layanan adalah hal penting yang tidak perlu saya tulis di sini. Masalah ini berkaitan erat dengan uang
Ide gila
Berangkat dari beberapa faktor di atas—dan beberapa lagi yang tidak saya tuliskan—tumbuhlah angan-angan agak gila di pikiran saya. Kalau kira-kira layanan luar yang dibawa masuk ke Indonesia bagaimana ya?
Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana caranya. Tapi coba bayangkan kalau pemerintah RI mengadakan jalur data (misal dari jaringan Tier-1 ke Indonesia) kemudian entah bagaimana caranya memberikan kemudahan-kemudahan bagi Yahoo, Google, Friendster, Facebook, dan sebagainya untuk menempatkan salah satu pusat data mereka di Indonesia.
Kalau mereka jadi masuk ke dalam jaringan Indonesia (bukan cuma membuat blablabla.co.id) apakah bisa mengurangi biaya keseluruhan? Saya rasa kok bisa. Jalur ke luar negeri bisa berkurang. Setidaknya, koneksi ke luar negeri tidak semahal gabungan biaya total yang harus dikeluarkan oleh masing-masing PJI di Indonesia. Berkurangnya biaya itu kalau dikembalikan ke logika semula pasti bisa mengurangi harga yang harus ditanggung oleh pengguna jasa internet.
Apakah cara itu bisa diwujudkan? Saya tidak tahu. Namanya juga pemikiran gila, setengah ngawur. Tapi kalau pertanyaannya adalah apakah itu masuk akal? Saya rasa—secara teknis—masuk akal. Entah soal non teknisnya. Toh layanan luar yang banyak diakses oleh orang-orang Indonesia ya itu-itu saja. Andai ada pencilan, jumlahnya tentu tidak terlalu besar (ini insting, jangan didebat). Penyedia jasa pun memperoleh keuntungan. Jumlah penduduk Indonesia yang segini banyak tentu saja harus dipandang sebagai pasar dengan potensi sangat tinggi, bahkan di bidang konektifitas internet dan layanan penyediaan dan pertukaran informasi.
Sampai kapankah konten lokal menjadi kambing hitam? Entah.
Timpalan tulisan
KM - 22 May 2009
He..he..he.. Nesu yah?
Ada banyak exchange lain di Indonesia yang ndak saya sebut. Omong-omong, mas buaya bisa sebut semua? ![]()
buaya.klas.or.id - 15 May 2009
loh, thanksnya cuma ke IIX dan OIXP, SIX gak berguna ya.. Padahal buaya hidup juga di SIX.
--buaya
Timpali tulisan
- Colongan Berita (rss feed)
- Compworld Security
- Debian Admin
- Debian Package OTD
- Debian Security
- Detikcom
- Distro Watch
- Kompas
- Linux Review
- OS News
- SlashDot Linux
- Viva News
- Para Tetangga
- Agus Priyadi
- Akhmad Suaidi
- Anton Yulianto
- Arinet
- Asfihani
- Budi Wijaya
- Dani Wafaul Falah
- Daniel Morgan
- David Suhendrik
- Dhidhel
- Eszy Filiani Poespo
- Galih Satriaji
- Henning TC
- Impianti WU
- KLAS
- Kiki Ahmadi
- M. Yuqi
- Menik
- Nanin Wailisahalong
- Nina
- Noor Al Azam
- Nur Aini
- Paejo
- Rivai
- Ronnie Muhadi
- Sari Rachmatika
- Satpam Bobo
- Tommy Pranasta