Beneran Butuh Sistem??

Ditulis pada tanggal 08 November 2008

Beberapa minggu ini terjadi beberapa hal yang cukup menarik. Salah satu yang paling "berkesan" adalah topik tentang "Kebutuhan akan adanya sistem standar pada suatu organisasi".

Pada organisasi berskala *besar* kiranya kebutuhan akan adanya sistem yang mengatur segala hal adalah sesuatu yang mutlak. Kita semua pasti sama-sama paham bahwa tanpa sistem, tidak akan ada "organisasi besar". Yang akan muncul kemudian adalah "kekacauan besar". Ini pun rasanya tidak begitu bisa diterima, karena kekacauan besar hanya bisa terjadi bila "sesuatu" yang kacau itu sebelumnya sudah besar. Hampir bisa dipastikan pula bahwa besarnya sesuatu itu adalah karena penerapan sistem yang baik.

Di lain pihak, banyak juga organisasi kecil yang berjalan tanpa sistem (tentunya sistem yang baku), namun segala urusannya dapat berjalan dengan baik. Tentu saja, penggunaan kata "baik" di sini tidak berarti bahwa organisasi kecil tidak memerlukan sistem baku. Hanya saja, permasalahan yang terjadi seringkali dapat terpecahkan dengan menggunakan nalar dan refleks belaka. Apakah dengan adanya sistem baku maka yang kecil ini bisa menjadi baik? Ya tentu saja bisa, apalagi bila sistem itu dijalankan dengan konsisten.

Yang menarik adalah skala yang menengah. Di tingkat inilah akhir-akhir ini aku berkutat. Penerapan proses kerja berdasarkan insting cukup kuat, namun dalam beberapa hal kebutuhan akan adanya sistem baku sudah mulai terasa. Ibarat orang, masa-masa seperti itu bolehlah kalau disetarakan dengan "masa puber". Maju kena, mundur kena, diem ketabrak.

Dalam kondisi itu, setidaknya menurut apa yang pernah saya amati, saya rasakan, dan saya alami, perbedaan antara hal-hal yang bersifat baku dengan hal-hal yang bersifat insting sangatlah tipis. Seringkali malah bercampur baur. Pada tingkat ini pula kadangkala saya susah bersikap. Apakah saya berjalan menggunakan insting, ataukah mengikuti sistem yang "telah diusahakan untuk dibangun" betapa pun tidak enaknya mengikuti sistem itu.

Di satu sisi keberadaan sistem diharapkan dapat menjamin standar keluaran kerja, siapa pun yang menjalankannya. Di sisi lain, kesulitan-kesulitan prosedural atas sistem itu pada kondisi tertentu dirasa tidak membawa perbedaan yang signifikan terhadap keluaran yang dihasilkan. Sesekali mempertanyakan mengapa harus membuang tenaga sebesar itu untuk menjalankan X, namun di sisi lain terpikir juga bahwa kemajuan tidak akan bisa dicapai secara global. Pada lingkungan semacam itu--setidaknya menurut pengalaman saya--kemajuan relatif lebih bisa dicapai oleh orang-orang yang "berinsting".

Kondisi ini bisa jadi makin parah ketika para pelakunya ternyata hanya *merasa* bahwa mereka berada pada sistem menengah, padahal sebenarnya bila bahan bakunya (raw materi) dihitung, organisasi ini sejatinya masih berada pada tingkat yang rendah. "Nuansa remaja" yang dirasakan hanyalah mimpi, atau sebut saja angan-angan yang sangat didambakan. Nyatanya perasaan-perasaan semacam ini senantiasa membuai. Nikmat untuk dirasakan, dan meningkatkan kepercayaan diri, setidaknya pada diri sendiri.

Pertanyaannya: "Benarkah kita sudah remaja?" Benarkah kita sudah memerlukan adanya sesuatu yang disebut "sistem"? Benarkah sistem yang kita bangun dapat berjalan dengan baik ketika didelegasikan pada orang lain? Selama ini saya mendapati hasil yang berimbang. Ada beberapa situasi di mana proses "delegasi spontan" dapat berjalan dengan baik (malah sangat baik), dan ada pula beberapa yang lain yang stagnan atau bahkan menurun.

Ya memang, semua itu lagi-lagi kembali pada orang yang menjalankan sistem. Pembahasan tanpa adanya profil yang obyektif seringkali membawa petaka. Salah perhitungan menjadi sesuatu yang sering sekali terjadi. Yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa memperbaiki yang sudah terlanjur salah seringkali sangat berat untuk dilakukan karena dua alsan sederhana yaitu "tidak mood" atau "gengsi". Lalu kalau sudah terlanjur ambyar gimana? Ya sudah. Buka mata, terima kenyataannya, resapi pelajarannya, perbaiki sekuat tenaga.

Kalimat itu ringan ditulis, tapi penerapannya luar biasa susah.

Semoga saja ada orang baik yang senantiasa membantu saya terutama dengan do'a agar apa yang telah dibangun tidak remuk perlahan sia-sia di depan mata.

SalamKecewaBuatSistemGerombolanKecil

 

 

Timpalan tulisan

KM - 6 Jan 2009

bukan... kantor lawas sih baik2 saja dan masi banyak yang bisa njalanin... ini sih objek rada baru :D

 

budiw - 4 Jan 2009

kecewa sama kantor lawas?

--budiw

 

Timpali tulisan

Nama
Komentar
  [Kode Huruf] Ndak bisa dibaca? klik di sini.
  Tuliskan kode di atas di isian ini:
Seharusnya situs ini kelihatan bagus kalo anda lihat menggunakan layar monitor
Kalau dilihat dari kuku jempol... Ah... Dunia khayal...

Ha? Apa? XHTML? Halah prek! Gelem wacanen, ndak gelem tinggalen :P