Dunia Pendidikan SD
Ditulis pada tanggal 19 Desember 2008
Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa sudah banyak sekali tulisan mulai kelas ringan sampai kelas berat yang menyoroti sisi positif dan sisi negatif sistem pendidikan di Indonesia. Yang saya tuliskan ini bukan sesuatu yang bersifat ilmiah, cuma curhat setelah melihat dan terlibat dalam situasi yang tidak begitu menyenangkan.
Bermula ketika pulang dari kantor, jemput wawa, trus pulang. Di rumah ketemu keponakan. Dia sekarang kelas 1 SD, yang ujug-ujug langsung tanya tentang PR-nya. Ketika itu pelajaran yang dikerjakan adalah IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Bagian yang dikerjakan adalah soal-soal yang menyangkut lingkungan keluarga.
Dari sudut pandang saya, banyak pertanyaan yang memang sangat susah dikerjakan bila saya melihat soal-soal itu dari sudut pandang anak SD kelas 1. Salah satu pertanyaan yang ketika itu berkesan untuk saya adalah "Dirumah saya dipanggil dengan nama...". Kontan saja, keponakan saya mengisikan jawaban "fia", lha memang itu namanya dan orang-orang di rumah memanggilnya dengan nama itu.
Saya cukup yakin bahwa jawaban yang diharapkan adalah nama pendek. Wajar saja kalau kita berpikiran begitu. Tapi apakah kemudian serta merta dia (yang masih kelas 1 SD) jadi sepenuhnya salah kalau tidak memberikan jawaban itu?
Kenapa toh kok harus ada pertanyaan semacam itu? Apakah sesulit itu memikirkan kalimat pertanyaan lain yang tidak ambigu? Pantas saja saya jadi minder. Jangan-jangan saya dulu juga mendapat pertanyaan semacam itu, yang kalau saya jawab *sesuai* dengan kalimatnya maka saya akan disalahkan.
Kiranya pertanyaan itu sama dengan soal PMP (kalo ndak salah sekarang PPKn) yang bunyinya "Berikan tanda pada kolom sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju sesuai dengan pendapatmu." Saya pribadi merasa ditipu oleh pertanyaan semacam itu. Saya dimintai pendapat, tapi kalau tidak sejalan dengan pendapat guru, maka jawaban saya disalahkan. Saya berpendapat kalau teman memukul, pukullah dia sebagai balasan. Guru berpendapat bahwa dia harus kita maafkan (batinku: kok nyimut???). Tapi yah, lagi-lagi yang salah saya, walau saya telah mengikuti perintah soal tersebut dengan sempurna: "... sesuai dengan pendapatmu"
Pengalaman berikutnya di hari yang lain sedikit berbeda. Kali ini tampaknya pelajaran matematika. Ada sebuah pertanyaan yang bikin kaget: "Mengapa bola dan kaleng dianggap sama?" Sontak saja saya bengong (sebenarnya 1/2 misuh mendapati pertanyaan seperti itu). Makna pertanyaan itu menurut saya (dan kita semua) akan jadi beres-beres saja bila kalimatnya diubah menjadi: "Apa persamaan bola dan kaleng?" Mudah sekali untuk dijawab sama-sama mengandung lingkaran.
Memang semua pertanyaan itu jadi masuk akal ketika kita yang memikirkannya. Tapi bagaimana dengan anak kecil? Dunia mereka adalah dunia visual, bukan abstrak. Jelas-jelas di depan mata mereka bahwa BOLA tidak sama dengan KALENG.
Lagi-lagi, saya cuma bisa berkata entahlah. Saya bukan pakar pendidikan, saya tidak berkecimpung di dalam dunia pendidikan, jadi ya... Saya cuma bisa curhat ![]()
Timpalan tulisan
sokam - 21 Feb 2009
@bombom: Pengalaman pribadi sebagai guru? ![]()
Bombom buaya buntung a.k.a mbah jambrong - 20 Feb 2009
soal yang diberikan oleh tiap guru sangat beragam dan banyak mengandung arti ambigu.. terlebih bila siswa memiliki perbendaharan kata yang kaya raya sehingga bisa mengartikan bagaimana bentuk pertanyaan.
tapi yang lebih mengesalkan adalah ketika kita sampai pintu gerbang sekolah hati kita sudah terjepit bahwa guru adalah orang tua kita di sekolah seperti halnya ayah dan ibu di rumah, dan persaan kita pada saat itu hanyalah menurut saja, tapi bagi aq itu adalah salah besar bukan mengajari untuk menjadi pembangkang tapi sekolah adalah tempat menempa pribadi kita di usia dini, dan usia dasar adalah tolok ukur pada pendidikan selanjutnya, lepas dari keadaan lingkungan yang menjadikan pribadi itu berubah.
kembali pada sosok Guru..bagi aq kalo gurunya cewek and cuantik ok dech digauli hahahaha
budiw - 4 Jan 2009
hehehe ketawa ngakak waktu baca yang soal ppkn hihihiih...
Timpali tulisan
- Colongan Berita (rss feed)
- Debian Admin
- Detikcom
- Distro Watch
- OS News
- SlashDot Linux
- Viva News
- Para Tetangga
- Akhmad Suaidi
- Anton Yulianto
- Arinet
- Asfihani
- Budi Wijaya
- Cahyo Darujati
- Dani Wafaul Falah
- David Suhendrik
- Eszy Filiani Poespo
- Galih Satriaji
- Henning TC
- Impianti WU
- KLAS
- Kiki Ahmadi
- M. Yuqi
- Menik
- Nanin Wailisahalong
- Noor Al Azam
- Nur Aini
- Paejo
- Sari Rachmatika
- Satpam Bobo