House MD: Beberapa Pesan

Ditulis pada tanggal 30 April 2010

[House MD] Kebetulan di kantor ada TV kabel. Biasanya TV kabel ini menimbulkan efek "nonton tipi" sebelum kerja. Beberapa waktu yang lalu yang sempat ketangkep mata dan kebetulan menyenangkan adalah serial House MD, serial tentang seorang dokter hebat tapi koplak. Dokter ini punya tim beberapa dokter yang di rumah sakit itu merupakan dokter-dokter best of the best. Animasi yang menjelaskan tentang kerja jantung, proses masuknya virus ke tubuh, pecahnya sel darah, dan hal-hal sejenisnya dibuat dengan sangat bagus. Biasanya serial ini tayang di AXN jam 8 sampe jam 9 pagi. Tapi entah apa yang terjadi, setelah aku kembali dari jakarta 2 minggu yang lalu, serial itu tiba-tiba hilang. Untungnya, waktu di jakarta sempat download 3 dari 6 season yang ada.

Serial ini memang berbentuk meng-hebat-kan seorang dokter yang luar biasa jenius, berpikir out-of-the-box yang sering melakukan diagnosa dengan cara yang aneh dan meresepkan sesuatu yang lazimnya tidak akan diresepkan oleh dokter mana pun di dunia (misal: pasien disuruh merokok). Tapi ada hal lain yang sebenarnya lebih menarik buatku daripada cerita yang tampil, yaitu pesan-pesan yang kutangkep di dalamnya.

Kalau mau bohong, lakukan dengan "baik"

Si dokter selalu melihat pasien sebagai "pembohong" yang tidak bercerita latar belakangnya dengan jujur. Dia benci itu, karena nyaris semua pasien melakukannya dan kebohongan itu seringkali membawa diagnosa ke arah yang salah. Dia pun akhirnya seringkali menanggapi dengan kebohongan untuk menghentak hati pasien (atau penunggunya) hingga akhirnya pasien berkata jujur. Konyolnya (atau ajaibnya?) kebohongan itu selalu terungkap dari hal-hal spele yang terjadi ketika filmnya sudah hampir habis. Bisa itu karena nemu pembalut, pernah juga nemu teh, nyabut rambut, atau bahkan nemu celana. Pernah juga terungkap dari hal-hal yang kompleks sih. Intinya: Sulit atau mudahnya mengungkap kebohongan tergantung dari sebaik apa kebohongan itu disusun. Semakin sistemik kebohongan itu, semakin susah pula mengungkapnya.

Berpikirlah out of the box?

Itulah kalimat super yang banyak diucapkan oleh banyak motivator yang bisa dilihat di TV, koran, majalah, dan banyak media lainnya. yang kemudian jadi pertanyaan: "e;Whose box is it anyway?" Skenario filmnya adalah pasien datang, dilihat gejalanya, kemudian tim dokter anak buahnya ngumpul bareng dan diskusi tentang kemungkinan penyakit yang diderita oleh pasien. A ngomong soal virus flu, B ngomong soal panu, C ngomong soal mencret. Dari situ kemudian dilakukan terapi X, Y, Z, sesuai dengan gejala yang timbul. Walau begitu Dr House pada awalnya selalu "tidak yakin" dengan terapi yang dilakukan, terbukti dengan selalu ada adegan-adegan di mana dia mencari sesuatu yang lain, sesuatu yang terkadang benar-benar keluar dari jalur diagnosa yang telah dia diskusikan dengan timnya. Sayangnya (atau untungnya?) temuan yang dia dapat dari "keisengan" itulah yang pada akhirnya menjadi penyelamat pasien.

Apakah itu cara berpikir "di luar kotak?" Bagi saya tidak. Dr House punya kotak yang jauh lebih lebar, lebih besar, dan lebih dalam daripada kotak-kotak yang dimiliki oleh dokter yang lain. Jadi perbesarlah kotak pikirmu!

Keyakinan terhadap pikiran

Dr House ini orang yang eksentrik. Kehidupannya bergantung pada suatu analgesic (pereda nyeri) yang dia konsumsi rutin bagaikan makan permen untuk menghilangkan rasa sakit di kakinya. Dia tampak "alergi" pakai jubah dokter yang warnanya putih, dan selalu pakai jas buluk apa pun kondisinya kecuali ketika masuk the clean room. Selain penampilan, cara pikirannya pun eksentrik, dan selalu merasa bahwa dirinya tidak akan salah. Perilaku ini selalu muncul di setiap episode yang selalu bikin anak buahnya jengkel, ditentang oleh rekan kerja, serta membuatnya "disiksa" oleh atasannya, Dr. Cody.

Tapi mungkin memang dasar keras kepala dan box-nya besar, dia selalu memegang teguh pikirannya. Kadang memang ada pikirannya yang hingga pasien sembuh belum juga terbukti, tapi kemudian terbukti 2 atau 3 detik sebelum tanyangan berakhir. Dan bagaimana ekspresinya setelah menemukan bukti bahwa pikirannya benar? Sederhana. Sebuah senyum cabul. Kalau sudah yakin bahwa pikiranmu benar, tabrak saja semua protokol yang ada :D

Dunia ini luas!

Tidak seperti kata orang-orang yang menyebutkan bahwa "dunia hanya selebar daun kelor," dia menganggap bahwa tidak ada sesuatu yang bersifat "lokal". Suatu gejala boleh jadi diakibatkan oleh sesuatu yang menurut dokter lain terlalu jauh untuk dirunut. Salah satu episodenya menceritakan tentang anak muda yang sekarat dan tidak ada diagnosa yang ces-pleng, yang setelah dia runut lebih jauh ternyata salah satu penyebabnya adalah karena dulunya ibunya tidak diimunisasi.

Dalam duniaku kira-kira padanannya adalah bahwa persoalan jaringan komputer tidak hanya pada routing, switching, kabel, dan sistem operasi. Isi kepala manusianya juga perlu dioprek. Get the BIG picture!

Don't get to high!

Banyak motivator (dan yang lain juga sih) memberikan salah satu pesan dengan menggunakan analogi padi yang makin tua makin menunduk. Sedikit beda latar belakang memang, tapi yang dimaksud di sini adalah tentang pemikiran. Banyak kasus di mana hasil tes darah, tes ini, tes itu, dan anu-anu membawa pemikiran para dokter ke suatu jenis penyakit atau kelainan yang "tinggi" yang pada akhirnya ternyata kasusnya sebenarnya ringan, tidak sepelik yang dibayangkan.

Ini juga yang sering sekali saya lihat di sekeliling saya. Sesuatu yang sederhana seringkali harus dihargai amat mahal. Malah boleh jadi terlalu mahal, sehingga solusi sejati atas inti permasalahan menjadi terkaburkan karena kompleksitas yang muncul yang sebenarnya hanyalah efek samping. Apa mungkin menuju "sederhana" memang perlu jam terbang tinggi? Secara pribadi saya pun mengalami hal ini. Awal belajar bikin program banyak sekali kode-kode yang sebenarnya ndak perlu, yang justru memperumit situasi. Perlahan tapi pasti, kompleksitas yang ndak perlu semacam itu semakin lama makin berkurang, mendekati nol. Sejenis dengan masalah PC. Dulu pernah ada PC mabuk dan yang punya ikutan mabuk cabut ini cabut itu, ganti ini ganti itu, yang njekethek masalahnya jadi terselesaikan setelah kaki-kaki memorinya dibersihkan pakai penghapus pensil!

Terakhir, ada satu lagi pesan yang saya tangkap tapi tampaknya takkan pantas kalau kutulis di sini. Biarlah itu saya simpen saja. Ini bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan mungkin juga ndak seberapa seiring dengan budaya yang berlaku.

Lepas dari itu, kira-kira kapan ya ada serial Indonesia yang bisa sebagus itu?

 

 

Timpalan tulisan

muhadi - 18 Aug 2010

kam, sing terakhir sms aq yo. malih penasaran opo sing ga kowe kandani. :D wkwkwk

 

tonggo mejo ngarep - 28 Jun 2010

hwekwkwkwkwk.... beberapa pesan tertangkap dengan indah sisanya emboh ra weroh ucule, sek lagi nggedekno kantong ajaib.:P

Serial Indonesia ra sah diarep-arep, biar berasa kejunya... emboh kapan :D

betewe betewe Dr. House nangkring maneh jam bengi, lah nek perkara diulang utowo di teruske mmmmm......

 

KM - 14 Jun 2010

Pingin sirah mbendhol tah? Atur ae pit, kabari tempat + lokasi + skenario. Aku mengko sangu betadin :P

 

mpitri - 14 Jun 2010

healah dowone.. yo podo2 lah, melu2 wae aku :D piye kabare kakaaaak? wes suwe g gayeng2an [baca jundul2an] ambek kakak... :D

 

Timpali tulisan

Nama
Komentar
  [Kode Huruf] Ndak bisa dibaca? klik di sini.
  Tuliskan kode di atas di isian ini:
Seharusnya situs ini kelihatan bagus kalo anda lihat menggunakan layar monitor
Kalau dilihat dari kuku jempol... Ah... Dunia khayal...

Ha? Apa? XHTML? Halah prek! Gelem wacanen, ndak gelem tinggalen :P