Kenapa Disebut Korban?
Ditulis pada tanggal 09 Desember 2011
Semua pasti tahu bahwa "sesuatu" yang oleh satu pihak disebut sebagai kejahatan boleh jadi dianggap oleh kelompok yang lain sebagai kemuliaan. Definisi tentang apakah itu pemberontakan atau perjuangan tidak lepas begitu saja terhadap siapa yang melihatnya. Di area ini, tentunya tidak mungkin menginterpretasikan suatu kejadian hanya berdasarkan fakta. Motif juga harus dilihat, walau akhirnya anda hanya akan memutuskan untuk melihat kejadian itu sebagai bentuk kecerdasan atau bentuk kebodohan.
Tanggal 7 Desember yang lalu ada orang yang katanya mahasiswa yang membakar diri di depan Istana Negara sebagai bentuk protes. Dalam berita ini konon kabarnya dia berteriak minta Pak Presiden turun jabatan. Saya melihat bahwa dia punya alasan kuat—setidaknya bagi dia—untuk menyiram tubuhnya dengan bensin dan kemudian membakar tubuhnya. Dari presepktif saya, dia melakukan itu sebagai bentuk perjuangan. Dia punya alasan kuat untuk melakukan itu, terlepas dari apakah orang lain melihat itu sebagai kemuliaan atau kebodohan. Mohon koreksinya kalau saya salah.
Akan tetapi sayangnya, kemudian ada sekelompok mahasiswa yang dikabarkan akan berunjuk rasa sebagai bentuk solidaritas korban bakar diri. Bukan aksi solidaritasnya yang saya sayangkan, tapi penyebutan pelaku bakar diri sebagai "korban". Kenapa harus disebut sebagai korban? Sekali lagi dari prespektif saya dia punya alasan kuat untuk melakukan itu. Dia bukan obyek, dia bukan "bukan siapa-siapa" yang kemudian kecipratan bensin. Itu bentuk ekspresi dia untuk menyatakan sikap, untuk mengemukakan keprihatinan. Dia adalah subjek. Dalam pengertian bahasa, tentunya jarak antara korban dengan pelaku sangatlah jauh. Tentang solidaritasnya, tentu saja saya cukup terharu, bahwa rasa bersaudara itu masih ada.
Bagi saya secara pribadi, penyebutan "korban" sedikit banyak cukup menghina. Paham maksud saya kan? Dia sudah sepenuh hati membulatkan tekad untuk bakar diri, dan dia dicap sebagai korban? Saya tentu tidak bisa menghakimi apakah itu bentuk kemuliaan atau kebodohan. Itu terserah anda memandang. Akan tetapi dengan segala risiko dan keteguhan hati yang telah ia lakukan, bukankah selayaknya dia disebut sebagai pejuang?
Timpalan tulisan
Timpali tulisan
- Colongan Berita (rss feed)
- Debian Admin
- Detikcom
- Distro Watch
- OS News
- SlashDot Linux
- Viva News
- Para Tetangga
- Akhmad Suaidi
- Anton Yulianto
- Arinet
- Asfihani
- Budi Wijaya
- Cahyo Darujati
- Dani Wafaul Falah
- David Suhendrik
- Eszy Filiani Poespo
- Galih Satriaji
- Henning TC
- Impianti WU
- KLAS
- Kiki Ahmadi
- M. Yuqi
- Menik
- Nanin Wailisahalong
- Noor Al Azam
- Nur Aini
- Paejo
- Sari Rachmatika
- Satpam Bobo